Sunday, 13 April 2014

[EXPERIENCES] Diskon Palsu

Terbangun tengah malam. Hidung cenat-cenut karena pilek seharian. Terlalu capek untuk berpikir serius. Jadi, saya memutuskan untuk bercerita tentang pengalaman yang baru saja saya alami.

***


Sabtu sore, kepala rasanya berasap hampir meletus. Saya kemudian memutuskan untuk mampir ke salah satu lokasi toko buku besar. Kebetulan, saya baru selesai berkegiatan dan lokasi toko buku ini searah dengan rute saya pulang. Pas banget juga, ada bookfair di sana.

Lokasi bookfair ada di tenda yang ke arah pintu masuk dari belakang gedung. Sebelum ke sana, saya memutuskan untuk ke lokasi bargain book dulu. Soalnya, lokasi ke sini lebih depat dari tempat saya masuk ke toko buku.

Untuk yang sering ke toko buku ini, pasti tahu persis bahwa di sini -- di lokasi bargain book -- selalu ada diskon yang koleksinya berganti setiap bulan. Buku-buku yang didiskon sampai 70% (atau berapa pun diskon termurah yang sedang berlaku), biasanya diletakkan di dalam kotak dengan pintu masuk dan tertumpuk tidak karuan di dalam kotak ini. Beberapa kali saya menemukan harta karun seharga Rp. 10.000,00 di sini.

Nothing to lose. Saya menitipkan tas ke teteh cantik di kasir, ubek-ubek tumpukan buku sambil berjuang mengelap ingus yang terus meler. Dapat buku oke, tidak dapat buku bagus juga oke. Yang penting coba cari saja dulu mhehehe~

Dan... di sinilah cerita lucu dimulai...

Betapa kita, sebagai konsumen, sering dipermainkan logikanya oleh para penjual hahaha.

Ini bukan cerita baru, saya tahu, tapi karena ada kaitannya dengan pengalaman saya sebelumnya -- di akhir bulan Maret -- makanya kali ini saya bercerita.

Bulan lalu, saya datang ke lokasi yang sama dan melihat salah satu novel lama karya salah satu penulis perempuan Indonesia yang produktif berkarya. Bukunya saat itu dihargai Rp. 54.000,00. Setelah diskon sebesar 70% harganya menjadi sekitar Rp. 15.000,00. Ide ceritanya sesuatu yang saya suka. Ada fantasi, mitologi Jawab, isu kejawen Jawa, dan bumbu mistis lokal Indonesia lainnya. Tetapi, eksekusinya hmmm... well ya gitu lah. Karena saya membelinya hanya seharga Rp. 15.000 jadi tidak saya pikirkan lagi.

Sampai tiba-tiba, saat Sabtu sore saya kembali ke sana, saya dibuat toko buku ini sampai tertawa terbahak-bahak. Sendirian.

Apa penyebabnya?

Sumber Ilustrasi: Walter Schnekenburger Elementary School

Buku yang sama, dijual di tempat yang sama, bahkan diletakkan di dalam kotak yang sama -- kotak penuh tumpukan buku yang susunannya acakadut tidak karuan -- harganya dibuat menjadi tidak masuk akal!

Akhir bulan lalu, harga buku ini sebelum didiskon berapa ya tadi?
Yup!
Rp. 54.000,00.

Entah sulap dari mana, harganya membludak menjadi Rp. 159.900,00.

Nope. Saya tidak salah lihat.

Saya coba cari buku yang sama lainnya, untuk membandingkan harga, siapa tahu ada salah dalam pembelian label harga. Soalnya, pengalaman saya berhadapan dengan buku diskon sebelum-sebelumnya, terkadang harga untuk buku yang sama bisa berbeda.

Ternyata, label harga untuk buku ini yang saya bandingkan memang segitu saudara-saudara. Buku satu dan lainnya, sekali lagi INI buku berjudul sama yang ditulis oleh penulis yang sama, memang diberi label harga Rp. 159.900,00!!!

Jika diberi diskon 70% pun harganya masih sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan harga awal buku ini saat saya beli akhir bulan Maret.

LUAR BIASA!!!
Mahahahahahahahahaha...

Bahkan seharga buku terjemahan The Casual Vacancy karya J.K. Rowling -- sang penulis tujuh seri Harry Potter yang fenomenal di seluruh dunia -- di mana buku The Casual Vacancy ini super tebal dan hard cover. Saat saya ikut memesan lewat pre-order saja, kami -- para pembeli pre order ini -- diberi diskon khusus, ditambah dengan tote bag dan pin. Beberapa bulan kemudian, belum setahun sejak edisi terjemahan terbit, saya datang ke bookfair lain yang sifatnya lebih umum (bukan spesifik bookfair yang diadakan oleh toko buku) dan mendapatkan The Casual Vacancy HANYA seharga Rp. 70.000,00 DITAMBAH BONUS tote bag dan pin juga. Lah ini?!

Bayangkan...

Buku yang sedang saya ceritakan ini merupakan buku lokal. Sudah terbit lama, bahkan tidak booming. Tidak seperti buku-buku si penulis sebelumnya, yang beberapa sampai sangat terkenal hingga sekarang. Buku-buku awal yang dia tulis pun masih diterbitkan ulang. Tetapi, tidak dengan buku syuuuper overpriced barusan hahahaha.

HAS.TA.GAH

Saya jadi gatal membandingkan harga dengan buku-buku lain yang sempat saya lihat-lihat tadi.

Buku-buku karya Agustinus Wibowo -- yang kualitas kertasnya lebih bagus dan ada beberapa halaman full colors, diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan yang menerbitkan buku overpriced tadi, dan jelas masih buku baru dan tersegel rapi -- harganya saja tidak mencapai Rp. 100.000,00.

Buku Agustinus Wibowo yang Titik Nol dan Selimut Debu ini harganya Rp. 94.000,00 sebelum diskon. Saya lupa, keduanya diberi diskon berapa. Kalau tidak salah, sekitar 10-25%.

Titik Nol dan Selimut Debu punya kualitas seperti yang saya sebutkan di atas. Buku overpriced ini, hmmm.... kertasnya sangat standar. Bukan kertas bagus. Bahkan, sudah diterbitkan jauh lebih dulu dibandingkan Selimut Debu. Apalagi, jika dibandingkan dengan Titik Nol. Makanya saya bilang, harganya si buku overpriced ini sangat tidak masuk akal.

Misteri Ilahi banget harganya bisa sampai lompat terlalu jauh begitu hahahaha.

Buku lokal ya ini...

Coba bayangkan berapa harga buku import yang katanya didiskon juga di toko buku ini dan sama-sama diletakkan di lokasi bargain books.

Well...
Diskon palsu, banget.
Harganya tidak masuk akal, banget.

Saya sempat lihat ada salah satu buku import. Buku yang sama, sempat saya lihat beberapa hari yang lalu di jajaran buku special price Books & Beyond (ex Times), dan di sana diberi harga khusus Rp. 30.000,00 dari harga awal di atas Rp. 100.000,00. Yang jelas, tidak mencapai Rp. 200.000,00.

Berapa harga di toko buku ini?
LEBIH DARI Rp. 400.000,00 sebelum diskon 70%.
Kreyzih!!!
Mahahahahaha...

Kalau mau berburu buku import mending ke Books deh. Toko buku yang khusus jual buku import seken dengan harga reasonable. Atau ke lapak-lapak penyedia buku seken yang banyak bertebaran di luar sana. Penjual online juga ada.

Atau kalau mau berburu buku import yang baru, yaa mending ke Books & Beyond, Periplus, Kinokuniya, Spektra... ngg... apa lagi?

Jadi, kalau mau mampir ke bookfair yang sedang diadakan oleh toko buku ini, saran saya sih lebih baik mampir ke jajaran buku yang ada di tenda. Harganya jauh lebih masuk akal dibanding di lokasi bargain books

Misalnya, saya lihat novel terjemahan A Little Princess karya Frances Hodgson Burnett (penulis novel fenomenal sepanjang masa dan menjadi salah satu buku sastra klasik anak terbaik, bahkan diadaptasi ke dalam berbagai versi film layar lebar, The Secret Garden. Ulasannya bisa dilihat di blog saya yang khusus membahas resensi buku.

Buku ini dihargai Rp. 35.000,00. Setelah diskon sebesar 25% harganya menjadi Rp. 26.000,00. Buku baru, tersegel rapi, mulus pisan.

Bandingkan (lagi) dengan buku Rp. 159.000,00 tadi yang memiliki ketebalan sama, tetapi tidak semua penampakannya masih tersegel rapi hahaha.

Tapi, yang di tenda diskonnya paling besar 40% saja. Ada juga yang harganya mulai dari Rp. 5.000,00 (tidak banyak pilihan), atau 2 buku seharga Rp. 15.000, 00 (kebanyakan bukan buku-buku populer).

Kalau insist mau ke bargain books dan ke kotak tumpukan diskon 70% yaa itu tadi, pastikan harganya. Ada kok yang memang dihargai murah, bahkan di bawah Rp. 10.000,00. 

Periksa harganya baik-baik sebelum membeli. Jangan tergiur dengan diskon 70% dan akhirnya kalap. Realistis dengan harga.

Jangan bandingkan juga dengan koleksi yang sama di toko buku ini yang berlokasi di Jakarta. Koleksinya jauh lebih asoy di Jakarta. Kalau ada bookfair pun harganya jauh lebih kece yang di Jakarta, apalagi di toko pusatnya yang ada di Matraman situ. Ini yang membuat saya lebih betah berburu buku di lapak-lapak daripada ke toko buku besar selama tinggal di Bandung.

Btw...

Saya jadi ingat pengalaman ketika mampir ke lapak-lapak buku di Dewi Sartika hari Kamis lalu. Seperti biasanya, saya lagi super bete karena baru mendapat kabar tidak menyenangkan terkait perkuliahan. Mampir ke lapak buku adalah hiburan yang saya pilih. Lapak-lapak di Dewi Sartika biasanya berisi komik dan majalah bekas. Tetapi ada juga yang menjual textbook seken, novel import seken, dan buku-buku populer baru maupun seken.

Di sana saya mengobrol banyak dengan salah satu pedagang, yang dia berprinsip tidak mau menjual buku bajakan. Koleksinya didominasi komik dan buku-buku seken berkualitas. Harga bersaing. Beberapa pedagang lainnya di sana adalah kakak atau adik dari pedagang ini.

Dia banyak memberikan bocoran tentang dari mana saja dia mendapatkan koleksi buku jualannya. Bahkan, dia juga memberikan bocoran berisi list harga yang diberikan oleh penerbit buku untuk harga beli dia dari mereka. Murah, asli! Makanya dia bisa menjual buku baru dengan harga murah juga, di bawah harga pasaran di toko buku besar, apalagi dibandingkan dengan harga toko buku semacam toko buku yang baru saya ceritakan ini -- yang konon bisa mengambil keuntungan sampai 60%.

Eaaak~
Gosip kembali ke sana hahahaha.

Nah, dari hasil obrol-obrol itu, saya mendapatkan buku-buku kharatiiss dong. Hore!

Sudah ah...
Menceritakan ini membuat saya lapar. Lapar buku.

Dan lapar cinta.

Pret!


Have a blessed day!