Thursday, 26 February 2015

[THOUGHTS] Kamisan Season 3 #3 : Rumia Zakia


Rumia merapikan meja. Ia meletakkan pinggan berisi dua potong red velvet cake yang sangat disukai oleh kekasihnya. Ia juga meletakkan beberapa bunga kesukaannya sebagai penghias meja.

"Sempurna." Rumia mengagumi hasil karyanya. Dekorasi yang baru saja diselesaikannya sungguh membuatnya begitu bangga dan mulai menerka bagaimana reaksi kekasihnya kelak ketika melihat langsung. Kekasihnya begitu mencintai kesempurnaan.

Rumia meraih ponsel yang ia letakkan di atas kursi makan. Seharusnya satu jam lagi kekasihnya akan sampai. Rumia ingin memastikan bahwa kekasihnya tidak melupakan janji pertemuan malam ini. Ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu. Mereka sudah terpisah selama dua bulan dan hanya bisa saling melepas rindu melalui percakapan di beragam aplikasi media sosial yang dapat mereka gunakan. Dengan satu gerakan ringkas, Rumia menekan nomor kontak kekasihnya.

"Halo...." Suara di seberang menjawab panggilan dari Rumia begitu dering pertama selesai berbunyi dan bibir Rumia merekah, tersenyum dengan gembira, dan senyum Rumia semakin melebar ketika mendengar pernyataan yang keluar dari suara kekasihnya. 

Hubungan telepon terputus dan Rumia segera menyiapkan sesuatu.

***

Pilih salah satu.

Zakia menatap ruangan tempatnya menghabiskan waktu selama 8-15 jam sehari, untuk bekerja. Ruangan yang begitu dicintainya. Ruangan yang menjadi simbol eksistensi yang paling ia banggakan, ruangan yang menjadi tempat pertemuan Zakia dan kekasihnya untuk pertama kali dan menyimpan jejak-jejak indah mengenai apa saja yang sudah mereka habiskan di dalamnya sejak dua tahun yang lalu. Ruangan yang sama, yang akan segera Zakia lepaskan untuk menuju ruangan baru yang lebih besar, di tempat yang lebih besar dengan kesempatan yang terbuka lebih lebar dibandingkan yang sudah dimiliki oleh Zakia sekarang; ruangan baru yang menjanjikan bentuk eksistensi yang lebih solid dan membanggakan bagi Zakia.

Zakia menghela napas.

Pilih salah satu.

Dan Zakia memantapkan pilihannya.

***

Rumia menatap layar ponsel. Kekasihnya baru mengabarkan bahwa ia sudah menuju ke tempat Rumia. Rumia memperhatikan foto-foto mereka yang tersimpan di dalam ponsel, hingga sebuah foto terlihat dan mengingatkan Rumia akan kekasihnya; lebih tepatnya, impian kekasihnya. Sebuah foto gedung bertingkat yang menjulang tinggi, berdiri tegak dan terkesan sombong sekaligus penuh percaya diri, dan seolah percaya bahwa dunia berputar dengan gedung tersebut sebagai porosnya.

Rumia pernah diajak oleh kekasihnya untuk ke sana, ke sebuah tempat di sebuah kota besar di negara yang begitu besar. 

"Aku ingin mencapai posisi paling bergengsi yang bisa aku capai melalui pekerjaanku. Satu-satunya impian yang paling menggairahkan bagiku adalah bisa menaklukkan gedung ini."

Kekasihnya mengucapkan kalimat tersebut dengan jenis kebanggaan yang tidak dapat disembunyikan. Rumia tidak pernah bermimpi untuk bisa berada di tempat tersebut. Bisa selalu berasama kekasihnya merupakan satu-satunya impian yang ingin Rumia raih. Itupun, Rumia baru memikirkan tentang mimpi setelah bertemu dan menjalin hubungan bersama kekasihnya. 

Rumia bukan tidak menyadari bahwa kekasihnya merupakan orang yang begitu ambisius dan selalu membuat perencanaan. Satu-satunya hal yang tidak pernah direncanakan oleh kekasihnya adalah menjalin hubungan bersama Rumia dan Rumia merasa sedikit bangga, jika dia diizinkan untuk membanggakan hal tersebut, bahwa ia berhasil membuat kekasihnya terlepas dari kebiasaannya membuat rencana dengan menjadikan Rumia sebagai pasangan.

Tidak ada hal yang lebih membanggakan bagi Rumia kecuali melihat bahwa kekasihnya sudah mendapatkan banyak kesempatan untuk memperoleh satu per satu impiannya, termasuk langkah menuju tempat yang sudah diincarnya sejak masih begitu belia. Dua bulan kemarin adalah langkah awal bagi kekasihnya untuk merengkuh impiannya dengan erat. 

***

Zakia segera membereskan barang-barang pribadi serta sisa-sisa pekerjaan yang harus diselesaikannya. Waktunya tinggal sedikit. 

Pilih salah satu.

Tiga kata yang selalu saja terngiang dan membuat Zakia merasa sangat terganggu.

"Cukup sekali. Cukup sekali saja." Zakia terus membatin, cukup sekali saja dia tidak berpikir matang sebelum mengambil sebuah keputusan, dan tidak perlu ada salah langkah lagi.

Pekerjaan adalah segalanya bagi Zakia dan ia tidak pernah mengizinkan penghalang untuk menjegal langkahnya. Cukup satu kali Zakia membiarkan ada orang lain yang hadir di antara dirinya dan pekerjaan, yang membuatnya nyaris tidak dapat berpikir jernih untuk fokus menaiki tangga karir yang berada tepat di depan mata. Itulah saat-saat di mana pasangannya hadir di dalam kehidupannya dan ruangan kerja menjadi saksi segala intimasi yang bisa mereka rengkuh dengan kilat. Untung saja, pasangannya sudah memilih berhenti bekerja, mereka tidak lagi sering bertemu, dan tidak ada lagi gangguan dalam mencapai nilai paling prestisius bagi semua ambisi pribadi Zakia.

Zakia menunggu saat paling tepat untuk memastikan rencananya. Malam ini. Zakia segera memanggil sekretarisnya ke dalam ruangan. Biarkan sekretarisnya yang mengambil-alih sisa pekerjaannya. Zakia hanya memiliki waktu sekitar 15 menit untuk segera datang ke tempat pertemuan, sudah pasti ia akan terlambat. Zakia bergegas, ia ingin bisa secepatnya memastikan sesuatu dan mengambil keputusan dengan tenang.

***

Lamunan Rumia terhenti ketika ia mendengar pintu pagar terbuka; kekasihnya datang.

"Maaf, aku terlambat..."

Rumia tersenyum, memaklumi. Kesibukan kekasihnya membuat ia sering terlambat jika harus menepati janji pertemuan dengan Rumia, "Tidak apa... Masuklah. Aku sudah menyiapkan hidangan kesukaanmu."

Rumia menggamit tangan kekasihnya, ia pegang dengan erat. Mereka terpisah cukup lama dan Rumia tidak ingin kehilangan satu momen-pun yang membuatnya kehilangan kesempatan untuk menyentuh kekasih yang sangat dicintainya tersebut.

"Aku membuat red velvet cake, aku mencoba resep baru dan aku sangat menjamin bahwa kau akan menyukainya. Cobalah..." Dengan setengah memaksa, Rumia meminta kekasihnya untuk mencoba makanan, yang membutuhkan waktu berhari-hari dan percobaan entah berapa puluh kali, untuk bisa mendapatkan rasa yang sempurna. Kekasih Rumia sangat mencintai kesempurnaan dan Rumia sangat mengenal tabiatnya. Rumia tidak akan suka jika kekasihnya tidak mendapatkan kesempurnaan yang menurutnya sangat pantas diperoleh oleh kekasihnya tersebut -- termasuk soal rasa.

"Enak. Rasanya tepat seperti dugaanku." Dan Rumia tersenyum puas. Sempurna.

"Selesaikan makananmu... Jangan terburu-buru. Aku tahu apa yang kau inginkan dariku."

"Maksudmu?"

"Aku tahu. Aku sangat mengetahui apa yang mungkin sedang kau pikirkan. Aku akan membantumu untuk mengambil keputusan. Hilangkan wajah penatmu. Tolong nikmati malam ini bersamaku tanpa memikirkan apapun."

Rumia menyuapi potongan demi potongan red velvet cake ke mulut kekasihnya sambil terus tersenyum, berusaha meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang dia ambil adalah keputusan yang tepat. Tidak ada hal yang lebih dibutuhkan oleh kekasihnya selain hal yang akan segera Rumia lakukan.

"Bantu aku supaya malam ini berakhir dengan indah, sempurna, sesuai dengan rencana yang sudah aku persiapkan. Hanya itu keinginanku malam ini. Selebihnya, kau akan bebas."

"Jelaskan apa maksudmu, Rumia?"

"Sudah satu jam berlalu, seharusnya sebentar lagi reaksinya dimulai. Tenang saja, tanpa jejak. Dan aku memastikan bahwa kau tidak akan sampai dilibatkan setelahnya. Kau akan bebas. Percayalah."

"Aku tidak mengerti."

Rumia menatap mata kekasihnya, mata yang begitu dipujanya, "Kau akan segera mengerti."

Tangan Rumia kemudian membelai rambut kekasihnya, "Aku sangat mencintaimu..."

Tidak ada yang bisa menghalangi Rumia untuk mencintai kekasihnya, bahkan hingga melebihi cinta Rumia terhadap dirinya sendiri. Cinta yang membuatnya berani meminum racun mematikan demi memberikan kebebasan bagi kekasihnya untuk mengepakkan sayapnya lebih lebar, terbang lebih tinggi, dan mencapai angkasa.

"Aku tidak ingin memberikan beban kepadamu. Impianmu adalah hal yang lebih penting dibandingkan diriku dan aku tidak ingin menjadi penghalang bagi dirimu untuk mencapai impianmu tersebut. Pergilah dengan tenang, kejar mimpimu. Kau tidak perlu memilih untuk meneruskan hubunganmu denganku. Aku melepasmu."

Rumia memegang kedua pipi kekasihnya, "Ingatlah satu hal. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu..."

Dan tarikan napas terakhir menghentikan segalanya, untuk selamanya. Rumia sudah tiada.

Zakia menikmati semua momen yang sudah diciptakan Rumia untuknya di perjamuan terakhir mereka. Zakia tahu bahwa Rumia akan melakukannya, tanpa Zakia harus meminta Rumia untuk melepasnya.

Satu hubungan yang di luar rencananya, yang berpotensi menghancurkan seluruh image dan karir Zakia, sudah secara resmi berakhir. Kini Zakia bebas melangkah. Tempat baru yang menjadi impiannya sudah menunggu.


Have a blessed day!