Wednesday, 20 August 2014

[EXPERIENCES] My Dear, August...


Hello, August...

Saya menulis ini sekaligus merangkum makna bulan Agustus bagi diri saya, setidaknya sejak saya lahir. Tapi, saya akan mengkhususkan sejak tahun 2002 karena banyak sekali kejadian signifikan di dalam hidup saya yang terjadi di bulan Agustus, dan kejadiannya dimulai sejak tahun 2002 tersebut. Susah dan sedih, senang dan bahagia, banyak terangkum di bulan Agustus, mhehe~

2 Agustus 2002 saya mengalami kecelakaan yang cukup nganu. Tenang, tidak sampai harus dioperasi ini itu atau rawat inap di sana sini hahaha. Hanya saja, kecelakaan tersebut terjadi sebanyak dua kali dalam satu hari yang sama. Ini yang saat itu membuat ngeri. Takut mati, jelas. 

Kejadian pertama dimulai saat saya berangkat ke sekolah. Biasanya, saya memilih jalur memutar supaya saya lebih lama sampai ke sekolah dan sepanjang di perjalanan bisa membaca buku pelajaran atau catatan sekolah. Iya, dulu saya siswi semlohay dan rajin belajar, hahaha. Kalau dibandingkan dulu, saya yang sekarang jauh lebih nganu untuk belajar. Kalau belajar membaca hati dia sih hayuk aja, halah pret! Nah, waktu saya mau naik angkutan umum yang kedua, tiba-tiba wuzzz! Tanpa sanggup menjaga keseimbangan badan, tahu-tahu saya sudah nyungsep dengan suksesnya di jalanan ibukota Lampung; kota halaman saya tercinta, Bandar Lampung. Lutut nganu, tangan nganu, baju kotor minta ampun. Awalnya saya menangis, sebelum akhirnya malah memarahi supir angkutan umum yang menabrak saya hahaha. Bakat nyolot sering maksimal kalau sudah berhadapan dengan hal seperti itu. Tapi, tidak lama saya malah sedih. Kasihan dengan supir angkutan umum itu. Rugi berat dia menabrak saya. 

Kenapa? 

Kalau dari bagaimana melihat paniknya dia saat melihat saya nyangsang di jalanan dengan luka-luka di sana-sini dan airmata serta hingus meler tidak karuan, lalu dia langsung angkat saya dan membawa ke dokter praktek terdekat sambil berkali-kali minta ma'af karena tidak bisa membawa saya ke Rumah Sakit yang berbiaya mahal, dia juga mengantar saya ke sekolah karena saya tidak mau pulang ke rumah takut dimarahi oleh Ibu, dan lainnya... Saya melihat bahwa bapak supir angkutan umum itu sebenarnya orang yang baik, bukan tipikal supir yang suka ugal-ugalan di jalanan. Dia menabrak saya saat sedang memundurkan kendaraan kok. Terbayang kan? Kalau memundurkan mobil, biasanya menjalankan mobil dengan pelan-pelan. Si bapak apes saja karena saat dia menabrak saya, dia lalai tidak memperhatikan saya yang sedang melihat ke sisi lain (sebelah kanan saya) dan saya lalai karena tidak memperhatikan sisi sebelah kiri. Padahal, saat itu saya sedang berada di jalanan dengan dua arah. Wajar dong kalau seharusnya saya memperhatikan kedua arah tersebut, bukan salah satu saja. Nah, kasihan kan dia? Mana setelah itu, selama beberapa hari ke depannya, si bapak rutin mendatangi saya ke sekolah untuk cek keadaan saya sudah membaik atau belum. Sempat menawarkan isterinya untuk selama sebulan rutin datang ke rumah saya untuk memijat/mengurut saya. Katanya, isterinya biasa menerima panggilan untuk memijat. Tawaran tersebut tidak diterima, saya dan orang tua sudah cukup menerima itikad baik dari si bapak. Tidak tega juga untuk membebani dia dengan biaya atau apapun lah itu, melihat dia selalu terlihat cemas ketika menyambangi saya di sekolah saja sudah membuat tidak tega.

Itu kecelakaan yang pertama. Kejadiannya pagi hari saat berangkat sekolah.

Kecelakaan yang kedua terjadi siang hari, saat pulang sekolah. Waktu saya datang ke sekolah dengan baju kotor, serta lutut dan tangan penuh luka. Belum lagi, rok selutut terpaksa agak diangkat sedikit kalau berjalan karena nganu sakitnya kalau si rok menyentuh lutut-lutut yang terluka, hahaha. Kemudian, seisi kelas heboh dan guru-guru langsung nganu pula sibuk menghubungi Ibu saya (yang kebetulan guru di SMA saya juga). Sebenarnya.... saat itu pihak guru dan Ibu saya yang datang ke sekolah sudah memaksa saya untuk pulang ke rumah. Tapi demi melihat muka Ibu yang agak nganu, antara marah dan kasihan karena akhirnya saya ketahuan sering memutar rute kalau berangkat ke sekolah, ditambah Ayah lagi ada di Bandung untuk diklat selama 3 bulan, saya memilih menghindari omelan dengan tetap berada di sekolah. Saya pakai alasan, OSIS sedang pra-diklat calon pengurus MPK yang baru, jadi saya harus tetap ada di sekolah karena bagian dari inti OSIS. Saya akan pulang sebentar nanti menjelang berangkat les, kebetulan les GO saat itu mulai aktif hari pertama. Alasan doang, hahaha. Padahal mah, enggak ada masalah kalau saya pulang ke rumah. Mungkin efek lanjutan karena kualat dengan Ibu, makanya ketika benar saya akan pulang ke rumah untuk berganti pakaian sebelum berangkat les, saya dikasih kecelakaan lagi!

Jeng...jeng...

Saat itu sempat hujan deras, Jadi, waktu saya diantar (mantan) pacar, masih hujan rintik-rintik. Si (mantan) pacar kalau sedang membonceng saya, tidak pernah kebut-kebutan. Santai, selow... Kan pacaran, ngapain buru-buru? Hahaha. Belum terlalu jauh dari sekolah, belum juga mencapai jalan utama, tiba-tiba tabrakan dong adu motor dengan motor yang sedang dikendarai oleh polisi super menyebalkan sepanjang sejarah saya bertemu dengan polisi yang baru diangkat. Lagi-lagi, saya nyungsep di jalanan, hahaha. Untungnya, sebelum kejadian tabrakan, si (mantan) pacar sudah memprediksi kemungkinan. Jadi, waktu tabrakan terjadi, dia sempat menjatuhkan motor ke arah kanan sehingga saya yang sedang duduk manis bukan ngangkang tidak jeblos ke kiri. Kalau ke kiri, gegebukan lah saya. Mana lutut dan tangan baru luka-luka hahaha. Saat terjatuh, posisi saya terduduk di jok, bokong alhamdulillah aman. Tapi karena shock saya langsung menangis menjerit super lebay. Ada rombongan ukhti sholehah alumni sekolah yang baru memberi mentoring ke teman-teman Rohis di sekitar lokasi saat itu, ada adiknya salah satu guru yang menjadi dosen di kampus dekat sekolah juga, serta ada rombongan adik kelas. Nah, rombongan adik kelas ini ternyata kembali ke sekolah dan mengabari beberapa teman, sehingga beberapa teman menuju ke lokasi kecelakaan. Adiknya salah satu guru, mengabari kakaknya (yang berarti guru saya), dan tidak lama beritanya sampai lah ke Ibu saya (yang saat itu sudah kembali ke rumah karena saya ngeyel belum mau pulang).

Another drama...

Polisi super menyebalkan itu kekeuh bahwa dia tidak bersalah. Padahal, dari kesaksian dan juga kondisi motor dia yang nganu, jelas sekali terlihat bahwa dia ngebut dan menabrak motor yang dikendarai (mantan) pacar. Saya sempat teriak, hmm, bahasa halus dari mengatai dia segala rupa hahaha, sebelum ditenangkan oleh Mbak-mbak Rohis baik hati penuh pesona dan bersuara dengan nada super lembut ke saya, "Nia, sini yuk kita duduk. Kamu tenangkan diri dulu. Lihat deh, kamu luka-luka. Di mana saja yang sakit? Biar kami bantu periksa...." Di tengah banjir air mata dan hingus, saya masih sempat-sempatnya berpikir, "Kok, pada tau nama gue sik? Kan gue bukan anak Rohis...." Hahaha, ho'oh, itu kalimat yang saya pikirkan pertama sebelum menjawab, "Ini luka dari kecelakaan tadi pagiiiii...." dan kemudian lanjut menangis histeris.

Lumayan lah, dari kecelakaan kedua membuat jumlah luka dan memar di tubuh saya bertambah, hahahaha. Sampai sekarang, bekas-bekasnya masih terlihat dengan indah di tubuh saya. Bahkan yang di lutut, sampai tidak lagi tumbuh bulu halus selama 12 tahun ini. Anggap saja, waxing.

Efek samping dari dua buah kecelakaan di tanggal 2 Agustus 2002 dan bertemu Mbak-mbak Rohis yang bisa ingat nama saya tanpa saya merasa pernah kenal dengan mereka tersebut, saya jadi tidak antipati lagi ke Rohis, hahaha. Sebelumnya, saya antipati sekali dengan Rohis. Agak nganu lah... Panjang ceritanya, hahaha. Selain itu, sejak itu saya mulai berpikir untuk berkenalan dengan Rohis dan setahun kemudian saya berkesempatan untuk berkenalan dengan orang-orangnya, tapi di lingkungan yang berbeda.

Agustus 2003 saya secara resmi mulai berkegiatan sebagai mahasiswa baru di salah satu kampus di kota Depok tercinta. Ya ampun, setelah proses panjang akhirnya saya diperbolehkan kuliah di luar Bandar Lampung dan berkesempatan masuk di kampus hits se-Indonesia Raya tanpa harus pakai tes ini-itu. Keterlaluan kalau saya menolak kesempatan itu, di saat banyak orang lain yang berusaha masuk ke sana tapi gagal, hihi. Proses pendewasaan diri saya dimulai di sana. Sebenarnya, saya mulai terdaftar sejak tanggal 1 Juli 2003 sih, karena saya masuk lewat jalur nganu yang agak sepi pasukan yang diterimanya, makanya saya daftar ulang duluan dan wajib ikut matrikulasi selama sebulan. Nah, setelah matrikulasi dan daftar ulang lagi dengan teman-teman yang lewat jalur ramai, kehidupan saya sebagai mahasiswa secara resmi dimulai bulan Agustus 2003. Banyak sekali proses yang saya lalui di sana, semuanya super seru. Mau jatuh atau bangun, semuanya berkesan. Bisa beratus halaman untuk menceritakan secara detail. Intinya, membahagiakan, karena saya berkesempatan melalui itu semua.

Tepat 4 tahun kemudian, Agustus 2007, saya secara resmi lulus dan wisuda. Lalu, pindah ke Jakarta. Perjalanan sebagai warga negara ber-KTP Jakarta dan murtadon dari KTP Bandar Lampung pun dimulai. Pekerjaan-pekerjaan yang sudah saya lakoni sejak Agustus 2006 tetap saya lanjutkan hingga Agustus 2009. Pekerjaan superb yang sangat saya rindukan saat ini, hihi. Bisa berkenalan dengan rutinitas pekerjaan di International Non-Goverment Organization dan melalui serangkaian proses kehidupan lainnya. Berkenalan dengan teman-teman dari mancanegara, para aktivitas pro-anak, anak-anak yang bermasalah dengan hukum dan harus di penjara, anak-anak jalanan dan termarjinalkan, anak-anak dengan kasus-kasus yang masuk ke area klinis, dan lainnya. Ada banyak!

Agustus 2008 saya juga berkesempatan untuk menjalani training dengan dipandu langsung oleh para dosen dan peneliti dari kampus-kampus ternama di Belanda. Negeri incaran saya untuk bersekolah sejak bertahun-tahun sebelumnya! Siapa yang menolak, kan?! Kharatiiiss puuun~

Kesempatan menjalani training ini yang menjadi puncak kegalauan saya antara lanjut ke profesi atau ambil jenjang master dengan jurusan non-Psikologi? Untuk profesi, saya memilih menyelesaikannya di Indonesia. Sementara untuk master, saya bisa bebas memilih jurusan lain. Pemikiran saya lainnya, saya ingin kuliah di Belanda, ambil master terkait anak dan/atau perkembangan anak di sana. Ada teman yang sempat kuliah singkat di Den Haag terkait perkembangan anak dan saya tertarik. Tetapi saya lebih memilih tinggal di Amsterdam dan syukur kalau bisa masuk ke Universiteit van Amsterdam yang bertahun-tahun membuat saya mupeng, hahaha. Saya bahas lagi dengan keluarga, lagi-lagi ditolak proposalnya dengan alasan yang sama; saya anak perempuan satu-satunya dan tidak boleh tinggal terlalu jauh dari rumah selama saya belum menikah. Bandar Lampung - Depok itu jarak maksimal antara saya dan orangtua. Huwow!

Saya coba ajukan proposal lagi, kalau pindah ke Bandung diperbolehkan atau tidak? Sekali lagi, ditolak! Ya sudah, akhirnya saya memilih lanjut ke Depok lagi hahaha. Untuk jurusan, saya memilih murtadon dari Profesi Pendidikan yang sudah saya incar sejak awal kuliah. Pengalaman-pengalaman selama bekerja membuat saya memutuskan memilih Profesi Klinis Anak walau dengan segala konsekuensi yang harus saya tanggung kemudian. Untuk lanjut kuliah Profesi, jelas, saya harus melepaskan pekerjaan karena jadwalnya sangat mengikat.

Dan begitulah, Agustus 2009, secara resmi saya kembali menjadi mahasiswa Profesi Klinis Anak di Depok. Selama 3 tahun setelahnya, saya berjibaku dengan segala jenis tantangan hidup ditambah dengan tuntutan akademik. Segala tantangan hidup membuat saya tidak dapat fokus di akademik. Ada banyaaaak sekali yang harus saya benahi. Sialnya, saya sendiri. Tidak mungkin membebani orang lain karena bagaimana mau meminta tolong kalau saya yang harus membenahi semua, dengan usaha saya, dan dibantu beberapa profesional. Saya hanya bisa meminta dukungan moril dari keluarga, teman, dan orang lain yang tahu persis bagaimana kondisi saya saat itu. Pada akhirnya, saya kalah. Daripada akademik saya semakin kacau balau, saya memutuskan untuk menghentikan perjalanan saya di Depok. Mungkin bukan kalah ya, lebih tepatnya, saya mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan di tempat lain untuk menempuh tujuan yang sama.

Tepat di bulan Agustus 2012, setelah 3 bulan saya menghentikan kegiatan di Depok, saya memutuskan untuk pindah ke Bandung. Secara resmi, saya pindah ke Bandung di bulan November 2012. Melanjutkan profesi yang sempat tertunda di kampus Bandung dan berkenalan dengan segala komunitas lain, aktivitas-aktivitas non-akademik yang sempat saya hentikan selama tahun 2009-2012. Selalu ada tujuan dan makna dari setiap langkah hidup, begitu saja intinya hahaha.

Awalnya saya cukup stress dengan kehidupan di Bandung yang membuat saya tidak merasa nyaman. Ada beberapa hal yang membuat saya eneg sedemikian rupa dengan Bandung. Bohong besar kalau semua hal di Bandung sesuai dengan yang digembar-gemborkan, itu yang saya rasakan hahaha. Sebelum akhirnya, saya mencoba mencintai Bandung dengan cara saya sendiri, sama dengan ketika dulu saya mencoba mencintai Psikologi dengan cara saya sendiri. Dengan segala tantangan hidup yang saya alami sejak 2009, puncaknya selama 2010-2012, satu hal yang saya pelajari; buku adalah hiburan saya, berburu buku adalah hiburan saya. Jadi, saya mencoba mencintai Bandung melalui buku.

Sebelumnya, saya sudah tergabung di Klub Buku Indonesia, terhitung sejak saya memutuskan keluar dari Depok. Agustus 2012 adalah momen di mana saya secara resmi memilih aktif di komunitas ini, ketika kami mengadakan kopdar perdana. Sebelumnya aktivitas saya dengan Klub Buku Indonesia terhitung masih random, masa perkenalan. Nah, di Bandung, bekal sebagai bagian dari Klub Buku Indonesia ini yang menjadi jalan pembuka saya untuk berkenalan dengan kegiatan terkait buku dan literasi di Bandung. Saya juga diajak berkenalan dengan tempat-tempat yang menjadi tempat favorit pemburu buku. Mulai dari Lawang Buku, Reading Lights, Omunium, Palasari, hingga lapak-lapak di sepanjang jalan Dewi Sartika. Kalau mau textbook bisa ke Elvira di seberang Holiday Inn - Dago. Berkenalan juga dengan bookfair ala Bandung yang sering membuat saya stress karena koleksinya tidak se-asyik koleksi di Jakarta, Gramedia Merdeka yang "pelit" obralan, dan sejenisnya hahaha. Makanya, saya lebih sering berburu di lapak-lapak sekalian daripada ke Gramedia.

Perburuan terkait buku ini yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk melakukan #BGANia. Ada beberapa buku koleksi saya yang masih dalam keadaan tersegel dan sayang kalau tidak diberikan ke orang lain karena saya sudah punya buku-buku tersebut. Secara resmi giveaways buku saya lakukan di momen ulang tahun saya. Makanya prosesnya selama 19 Juli - 19 Agustus 2014 dengan pengumuman pemenang dilakukan pada tanggal 20 Agustus 2014, momen ulang tahun saya ini. Howree!!




#BGANia ini menjadi starting point di mana saya memulai kegiatan giveaways berhadiah buku. Selanjutnya akan ada Monthly Giveaways alias #MGANia yang akan secara rutin dilakukan setiap bulan di blog saya yang ini.

Selain itu, Agustus 2014 juga menjadi awal saya memulai kegiatan baru. Dulu saya sempat berjualan online, tetapi berupa fashion outfits di bawah nama The Naiya Indonesia. Kali ini, saya mengubahnya menjadi Boekoe Factory Outlets dengan tagline "Buku BAGUS dan MURAH ada di Boekoe FO". Kalau kamu mau berbelanja di toko saya, silakan menghubungi nomor yang tertera di sana ya. Mhehe~

Dan hari ini, tepat di hari ulang tahun saya, saya juga mendapatkan bertubi-tubi kejutan, hahaha. Sebagian besar terkait dengan buku. Mulai dari hadiah-hadiah buku, diskon tak terduga di beberapa toko buku, jatah diskon member di sebuah toko buku yang masih berlaku hingga akhir bulan, serta berhasil menemukan harta karun dari perburuan hari ini. Ada juga diskon terkait minuman kesukaan saya, yang tanpa diduga saya dapatkan. Entah apa lagi kejutan lainnya yang siap menyusul, setidaknya hingga pukul 23.59 WIB nanti malam.

Berbahagialah!


\(^o^)/




Have a blessed day!